Iklan Header

Main Ad

Kesulitan Uang, TIRTO.ID Akhirnya Halalkan Sebar Fitnah


Media TIRTO.ID didirikan pada tahun 2016 dengan semangat dan gembar-gembor tinggi. Mengambil nama dari Bapak Pers Nasional, Tirto Adhi Soerjo, cita-citanya adalah menghadirkan jurnalisme yang akurat dan lengkap, di tengah media nasional yang dipenuhi berita-berita sensasi belaka.

Apa daya, 3 tahun berjalan, konsep jurnalisme TIRTO.ID yang semula idealis ternyata tak kunjung membuahkan pembaca setia, iklan tinggi, dan bisnis yang menjulang. Sejak akhir 2018, TIRTO.ID mulai kehabisan bensin. Suntikan modal dari investor baru tak kunjung berhasil didapat, akibat raport keuangan yang buruk.

Realitas industri media tak semanis yang dibayangkan. Di saat bersamaan, TIRTO.ID terus membakar uang karena biaya SDM yang tinggi. Menghadirkan jurnalisme yang akurat memang butuh banyak tenaga—yang kadung dibayar mahal. Banyak jurnalis senior yang idealis dan sangat ahli akhirnya hengkang karena kondisi yang memburuk. Mereka digantikan penulis-penulis junior yang jumawa bisa menulis di TIRTO.ID, namun sebetulnya belum memiliki ilmu dan jam terbang jurnalistik yang cukup. Mereka tidak memiliki jejaring dan lobby yang kuat dengan sumber berita.

Dalam kondisi seperti ini, TIRTO.ID mulai melonggarkan idealisme. Berita, data dan meme “nakal” mulai diperbolehkan di ruang redaksi; yang penting menghasilkan *click* tinggi di media sosial. Apapun dilakukan untuk menarik perhatian netizen yang memiliki semakin banyak pilihan. Berita berat TIRTO.ID kini harus bersaing dalam menarik perhatian publik dengan video ASHIAPPP dari Attar Halilintar.

Berita politik yang semula sangat diandalkan ternyata tak membuahkan banyak pembaca pula, karena publik jenuh dengan debat politik. Mereka baru menyadari bahwa segmen pasar yang semula mereka sasar, yang biasa diistilahkan sebagai Social Justice Warrior (SJW) atau anak-anak LSM dan lembaga internasional, jumlahnya sangat sedikit di Indonesia san tidak menawarkan daya beli yang tinggi. Maka, pasukan TIRTO.ID pun semakin kehilangan arah: Mau tetap idealis atau mau tetap bisa makan.

Dalam kondisi seperti inilah kita dapat memahami ciutan TIRTO.ID yang mefitnah Kiai Ma’ruf Amin sebagai akan melegalisir perzinahan dan Sandiaga Uno akan membubarkan Nahdlatul Ulama. TIRTO.ID sedang mencari sensasi belaka.

Yang dilupakan awak TIRTO.ID, dengan melepas idealisme jurnalistiknya dan mulai bermain berita ecek-ecek, TIRTO.ID justru kehilangan jati diri dan kehilangan keunikan. Ia tidak lagi menawarkan sesuatu yang beda dan berguna.

Sekarang, TIRTO.ID sudah menjadi tak lebih dari surat kabar LAMPU MERAH yang hobi mengobral sensasi lewat permainan kata-kata cabul di judul-judul beritanya.

Posting Komentar

0 Komentar