katapedia.net, JAKARTA - Ada tujuh panelis yang akan menyiapkan pertanyaan untuk debat putaran kedua yang mengambil tema energi, lingkungan hidup, infrastruktur, pangan, dan sumber daya alam (SDA). Tujuh orang panelis ini setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebut salah satu panelis untuk Debat Pilpres putaran kedua mengundurkan diri, yakni Pakar Hukum Lingkungan dari Universitas Airlangga Suparto Wijoyo. Dengan demikian,

Ketujuh panelis tersebut adalah Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Joni Hermana, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, pakar lingkungan Universitas Diponegoro yakni Sudharto P Hadi, pakar tambang Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwandy Arif, serta pakar energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ahmad Agustiawan.

Lalu ada juga Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pengembangan Agraria Dewi Kartika. "Jadinya tujuh, Pak Parto (Suparto) mengundurkan diri," kata Ketua KPU Arief Budiman ketika dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Jumat (8/2).

Arief juga tidak menyebut apa alasan Suparto mengundurkan diri. Penyelenggara pemilihan umum tersebut juga tidak mencari nama baru lantaran waktu saat ini sudah terlalu dekat dengan debat. "Karena sudah mepet, ya sudah," ujar dia.

Usai diskusi, Joni mengatakan belum semua panelis berkumpul siang hingga sore tadi untuk membahas materi debat. Pasalnya Rektor IPB Arif Satria sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dari kunjungan luar negeri. Nantinya para panelis akan membahas materi debat hingga hari Minggu (10/2).

Joni juga menyampaikan bahwa panelis mulai bekerja Jumat malam setelah mendapatkan masukan dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dia mengatakan, tidak ada batasan kuantitas pertanyaan yang disiapkan panelis namun pertanyaan-pertanyaan akan diharmonisasi dalam pleno agar tidak tumpang tindih. "Setelah selesai baru kami diskusi dengan moderator agar mereka paham," kata dia.

Dengan ketiadaan kisi-kisi, Joni berharap debat kedua berlangsung lebih seru ketimbang debat pertama. Dia juga menginginkan tidak ada jawaban normatif lagi dari calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sehingga masyarakat mendapat gambaran calon pemimpinnya. "Sejauh mana kemampuan dan konsep yang ingin mereka kembangkan," tutupnya.