Iklan Header

Main Ad

Lidah "media plat merah" dan Legitimasi Penggusuran Pedagang Kecil di Sinjai


katapedia.net, OPINI - Sebelum memulai menggores opini ini baiknya kita dengar apa yang direkam oleh Iwan Fals tentang kehidupan para pedagang kecil dalam lagunya yang bertitel "bunga trotoar".
Bunga-bunga kehidupan.. Tumbuh subur di trotoar.. Mekar liar di mana-mana. Langkah-langkah garang datang... Hancurkan wanginya kembang...
Engkau diam tak berdaya. Bungaku.. Bunga liar.. Bungaku.. Bunga trotoar.
Menggelar aneka barang.. Menggelar mimpi yang panjang... Kaki lima menggelar resah... Di emperan toko besar.. Koar mulutmu berkobar.. Kaki lima makin menjalar.. Bungaku.. Bunga liar.. Bungaku.. Bunga trotoar. Bagai jutaan serigala.. Menyerbu kota besar.. Tempat asal adalah neraka.. Tolong beri tahu aku..
Bagaimana caranya.. Nasib tak pernah berpihak.. Bungaku..Bunga liar.. Bungaku..
Bunga trotoar. Para kurcaci diinjak mati..
Para kurcaca nyanyi tralala.. Para kurcaci bersedih hati.. Para kurcaca ha-ha-ha..

Tentu sangat penting apabila kita ingin melihat atau membahas soal independensi media, hanya bukan itu yang ingin penulis jabarkan dalam kesempatan ini. Butuh dua sampai tiga kolom khusus untuk membahas hal itu. Penulis hanya ingin memperlihatkan sebuah pola kerja dari dunia modern ini.

Media memang sangat memiliki peran penting sekarang, Apa yang disebut revolusi industri 0.4. Mengkondisikan pertukaran informasi yang luar biasa cepat dan banyak jumlahnya. lantas dimana peran "media plat merah" disana?
ini yang akan coba kita ulas.

Pemerintah daerah tentu saja butuh mencitrakan dirinya, hal itu sangat wajar. Kebijakan pemerintah perlu untuk mendapat sokongan sosialisasi oleh masyarakat. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan bekerjasama dengan media sekaligus membiayai operasional "media plat merah" misalnya adalah salah satu langkahnya. Jangkauan "media plat merah" memang menambah luas sosialisasi program pemerintah.

Secara sekilas hal ini terlihat sangat ideal, namun apabila kita telisik lebih dalam maka kita akan menemukan titik lemah fungsi dari media itu sendiri. Secara telanjang mata kita akan melihat ketidakseimbangan mereka dalam melakukan pemberitaan. Oke sajalah "media plat merah" ikut mensosialisasikan program pemerintah yang baik, hanya saja apakah semua program pemerintah baik dan tidak memiliki celah yang berefek merusak? Akan sanggupkah "media plat merah" Ini memberitakan dari sudut pandang yang lain dari pemerintah, seperti dari masyarakat korban kebijakan yang salah misalnya?

Contoh pembuktian dari tesis sederhana ini kita lihat terjadi pada beberapa hari terakhir. Belum lama setelah beberapa "media plat merah" kompak memberitakan soal semrawut, kotor dan begitu mengganggunya kehadiran para pedagang kecil yang bertebaran di beberapa titik ibukota Sinjai, Pemerintah daerah segera bergerak melalui Satpol PP melakukan penertiban. Tidak ketinggalan Dishub Kab. Sinjai dengan garang melarang para pedagang menggelar barang dagangannya di beberapa titik.

Apa yang bisa kita saksikan dari dua peristiwa ini adalah adanya koordinasi satu komando antara "media plat merah" dengan pemerintah kabupaten. Peran media seperti ini adalah "memuluskan jalan" dengan melakukan framing dengan berbagai cara untuk demi pembusukan atau stigmatisasi kepada para pedagang kecil, ini agar ketika pemerintah bergerak maka masyarakat yang sudah di brainwash oleh berita-berita "media plat merah" akan mendukung keputusan penertiban seperti ini.

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Penggusuran telah dan akan terus dilakukan, sebagai satu-satunya solusi dari pemerintah atas ketidakmapuan mereka mengatur dan menyusun kebijakan tata kota dan ekonomi mikro. "Media plat merah" tidak pernah mensosialisaaikan kebijakan yang diambil pemerintah sebelum penggusuran seperti penambahan tempat jualan dll, karena memang pemerintah tidak kunjung melakukannya.

Akhir kata, lidah berfungsi sebagai organ dalam rongga mulut yang berfungsi mengatur suara dan bunyi menjadi kata, tapi jangan lupa, lidah juga berfungsi sebagai instrumen indra PENJILAT.

WASSALAM.

PENULIS : (P)

Posting Komentar

0 Komentar